Sering dengar istilah FOMO dan JOMO? Yuk, kupas tuntas kenapa anak muda zaman sekarang mulai beralih ke Joy of Missing Out dan hubungannya dengan kesehatan mental serta tren quiet quitting.
Pendahuluan: Ketika Layar HP Mengatur Detak Jantung Kita
Pernah nggak sih kamu lagi enak-enakan rebahan di kamar hari Sabtu malam, suasananya udah PW banget ditemani kipas angin atau AC, terus pas iseng membuka Instagram Story, seketika kedamaian itu runtuh? Kamu melihat teman-teman satu gengmu lagi nongkrong di kafe aesthetic baru, atau si X yang baru saja mengunggah pencapaian kariernya di LinkedIn dengan takarir yang super panjang.
Detik itu juga, ada perasaan sesak yang aneh di dada. Ada suara kecil di kepala yang berbisik, “Kok hidup gue gini-gini aja, ya? Kok mereka seru banget, sedangkan gue cuma jadi penonton?”
Selamat, kamu baru saja terserang penyakit emosional paling masif di abad ke-21: FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan tertinggal. Selama hampir satu dekade terakhir, FOMO telah menjadi bahan bakar utama yang menggerakkan roda media sosial. Kita dipaksa untuk selalu up-to-date, selalu hadir di setiap acara, selalu membeli barang yang lagi viral, dan selalu terlihat “sukses” di depan kamera.
Namun, roda berputar. Di kalangan Gen Z—generasi yang lahir dan besar bersama algoritma internet—mulai terjadi sebuah fenomena titik jenuh. Mereka mulai lelah dikejar oleh standar fiktif dunia maya. Alih-alih panik karena tertinggal, mereka justru merangkul sebuah konsep baru yang jauh lebih menenangkan: JOMO (Joy of Missing Out).
Mengapa pergeseran ini bisa terjadi? Dan apa hubungannya dengan tren quiet quitting yang belakangan sering dibahas di dunia kerja? Mari kita bedah secara mendalam dari kacamata psikologi pop.
Apa Itu JOMO? Menemukan Kebahagiaan dalam Keheningan
Secara harfiah, JOMO adalah Joy of Missing Out, alias kegembiraan karena melewatkan sesuatu. Jika FOMO didorong oleh rasa takut, cemas, dan ketidakamanan (insecurity), maka JOMO justru lahir dari rasa syukur, penerimaan diri, dan batasan (boundaries) yang sehat.
Anak muda yang menerapkan tren JOMO Gen Z tidak lagi merasa bersalah ketika mereka menolak ajakan nongkrong yang sebenarnya malas mereka hadiri. Mereka tidak lagi merasa sedih kalau tidak tahu tren TikTok terbaru yang sedang viral hari ini. Bagi mereka, memilih untuk offline, mematikan notifikasi ponsel, membaca buku, atau bahkan cuma sekadar tidur lebih cepat adalah sebuah bentuk kemewahan dan kemenangan pribadi.
Dari sudut pandang psikologi, JOMO adalah mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang sangat sehat terhadap information overload. Otak manusia purba kita sebenarnya tidak dirancang untuk menerima miliaran informasi dan stimulus visual setiap harinya seperti yang disodorkan oleh algoritma media sosial sekarang. Ketika kita memilih JOMO, kita sebenarnya sedang memberikan waktu bagi otak kita untuk bernapas dan melakukan reset.
FOMO vs JOMO: Pergeseran Paradigma Anak Muda Zaman Sekarang
Untuk memahami mengapa tren JOMO Gen Z ini menjadi sangat masif, kita harus melihat perbandingannya secara kontras dengan era FOMO.
Aspek FOMO (Fear of Missing Out) JOMO (Joy of Missing Out)
Penggerak Utama Kecemasan dan validasi eksternal Kedamaian internal dan self-care
Fokus Utama Apa yang sedang dilakukan orang lain Apa yang benar-benar dibutuhkan diri sendiri
Respon Medsos Selalu mengecek ponsel setiap beberapa menit Membuka media sosial secara sadar dan terjadwal
Kondisi Mental Rentan stres, lelah, dan merasa kurang Tenang, fokus, dan merasa cukup
Pada era FOMO, nilai diri seseorang sering kali diukur dari seberapa sibuk dan seberapa “eksis” mereka. Kalau akhir pekanmu kosong, kamu dianggap cupu atau tidak punya teman. Akibatnya, banyak anak muda yang memaksakan diri datang ke acara sosial meskipun kondisi dompet sedang sekarat atau energi sosialnya sudah berada di angka minus.
Sebaliknya, generasi JOMO melihat fleksibilitas waktu sebagai mata uang tertinggi. Mereka sadar bahwa waktu dan energi mereka terbatas. Menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak membawa kebahagiaan nyata hanya demi terlihat keren di mata orang asing di internet dirasa sebagai hal yang sangat sia-sia.
Hubungan Erat JOMO dengan Fenomena Quiet Quitting di Dunia Kerja
Menariknya, tren psikologi pop ini tidak hanya berhenti di kehidupan personal atau pertemanan saja. Pola pikir JOMO ini bertransformasi menjadi sebuah gerakan perlawanan di dunia profesional yang kita kenal dengan istilah quiet quitting.
Bagi kamu yang belum familier, quiet quitting bukan berarti kamu mengundurkan diri dari pekerjaan secara diam-diam. Istilah ini merujuk pada perilaku pekerja yang memilih untuk bekerja hanya sesuai dengan deskripsi pekerjaan yang tertera di kontrak, pulang tepat waktu, dan menolak untuk melakukan lembur sukarela tanpa bayaran demi apa yang dulu sering disebut sebagai “loyalitas perusahaan.”
Generasi sebelumnya mungkin melihat quiet quitting sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya ambisi. Namun, jika dibedah dengan psikologi JOMO, ini adalah respon rasional terhadap fenomena hustle culture yang toxic.
“Anak muda zaman sekarang menyaksikan langsung bagaimana kakak atau orang tua mereka bekerja bagai kuda, mengorbankan kesehatan fisik dan mental, hanya untuk digantikan dalam waktu satu hari kerja ketika perusahaan melakukan efisiensi.”
Melalui lensa JOMO, para pelaku quiet quitting sengaja memilih untuk “tertinggal” dalam perlombaan korporat yang melelahkan tersebut. Mereka melewatkan kesempatan untuk menjadi workaholic demi bisa menikmati waktu bersama keluarga, menjalani hobi, atau sekadar menjaga kesehatan mental mereka agar tidak mengalami burnout. Mereka tidak lagi FOMO terhadap jabatan yang tinggi jika harga yang harus dibayar adalah kehilangan kehidupan pribadi.
Mengapa Gen Z Sangat Terikat dengan Tren Ini?
Ada alasan sosiologis yang kuat mengapa tren JOMO Gen Z dan quiet quitting ini meledak di generasi ini. Gen Z adalah generasi yang menyaksikan transisi dunia dari analog ke digital secara penuh, sekaligus mengalami ketidakpastian global yang luar biasa (mulai dari krisis iklim, inflasi ekonomi, hingga pandemi global beberapa tahun lalu).
Kombinasi antara tekanan ekonomi dan paparan distopia digital di media sosial membuat Gen Z mengalami kelelahan eksistensial (existential dread) lebih awal dibandingkan generasi sebelumnya. Ketika masa depan terasa tidak pasti, hal yang paling masuk akal untuk dikendalikan adalah masa kini—hari ini, jam ini, detik ini.
JOMO memberikan mereka kontrol tersebut. Di dunia luar yang sangat bising dan penuh tuntutan, kamar tidur yang tenang dengan ponsel yang diatur ke mode Do Not Disturb (DND) adalah bentuk oase spiritual.
Cara Memulai JOMO Tanpa Harus Menjadi Anti-Sosial
Apakah beralih ke JOMO berarti kamu harus menghapus semua akun media sosial, mengunci diri di kamar, dan menolak berbicara dengan semua orang? Tentu saja tidak. JOMO bukan tentang isolasi sosial, melainkan tentang kurasi sosial yang disengaja.
Jika kamu ingin mulai menerapkan JOMO dalam kehidupan sehari-hari demi kesehatan mentalmu yang lebih baik, berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa kamu coba:
1. Kurasi Feed Media Sosialmu Tanpa Rasa Bersalah
Tombol unfollow, mute, dan block diciptakan bukan tanpa alasan. Jika ada akun teman atau influencer yang postingannya selalu membuatmu merasa miskin, merasa kurang cantik/tampan, atau merasa gagal dalam hidup, silakan klik tombol mute. Kamu tidak membenci mereka; kamu hanya sedang menyayangi kesehatan mentalmu sendiri.
2. Terapkan “Digital Detox” Secara Berkala
Kamu tidak harus langsung tidak bermain HP selama seminggu penuh. Mulailah dari hal kecil, misalnya: tidak membuka HP 30 menit setelah bangun tidur dan 30 menit sebelum tidur. Atau, tetapkan hari Minggu sebagai hari “Low Digital”, di mana kamu hanya merespon pesan-pesan yang sifatnya darurat saja.
3. Belajarlah untuk Berkata “Tidak”
Ketika ada ajakan kumpul-kumpul yang sekiranya hanya akan menguras energi dan uangmu tanpa memberikan dampak emosional yang positif, katakan tidak dengan sopan. Kamu tidak perlu membuat alasan yang berbelit-belit. Kalimat sederhana seperti, “Maaf ya, minggu ini gue lagi butuh istirahat di rumah,” sudah lebih dari cukup. Orang yang benar-benar menyayangimu akan memahami hal tersebut.
4. Nikmati Momen “Sini dan Kini” (Present Moment)
Saat kamu sedang makan makanan kesukaanmu, minumlah dengan perlahan tanpa harus memotretnya terlebih dahulu untuk dijadikan Story. Saat kamu sedang liburan, nikmati embusan angin dan pemandangannya dengan matamu sendiri, bukan lewat layar kamera HP-mu. Rasakan betapa indahnya hidup ketika tidak semua hal harus divalidasi oleh jempol netizen.
Kesimpulan: JOMO adalah Bentuk Tertinggi dari Self-Love
Pada akhirnya, transisi dari FOMO ke JOMO adalah sebuah proses pendewasaan emosional yang luar biasa. Pergeseran tren ini di kalangan anak muda menunjukkan bahwa kita mulai sadar bahwa validasi paling mahal dan paling menenangkan bukan datang dari jumlah likes, komentar, atau pandangan kagum orang lain, melainkan dari kedamaian yang kita rasakan di dalam dada kita sendiri.
Jadi, ketika nanti malam kamu melihat dunia luar sedang sibuk berlari mengejar tren yang tiada habisnya, tarik napas dalam-dalam, tersenyumlah, dan nikmati momen kelenganganmu. Karena terkadang, tertinggal dari dunia luar adalah cara terbaik untuk menemukan kembali dirimu yang hilang. Selamat merayakan JOMO!




